Ihtiar dan Tawakkal Dalam Bertani
Ihtiar dan Tawakkal Dalam Bertani
Menanam adalah ikhtiar.
Itulah perumpamaan paling nyata dalam hidup kita. Saat seorang petani menanam benih di ladang, dia tahu satu hal yang sangat jelas: tidak ada usaha yang langsung berbuah hari itu juga.
Untuk mendapatkan gabah yang siap dipanen, dibutuhkan waktu lebih dari tiga bulan. Tidak ada petani yang menanam pagi ini, lalu sore harinya sudah memanen. Tidak ada yang seperti itu. Hukum Allah sudah menetapkan: setiap pertumbuhan memiliki waktunya.
Selama tiga bulan itu, petani tidak berdiri diam menunggu. Dia berikhtiar sepenuhnya. Dia mengairi pada waktu yang tepat. Dia memberi pupuk secukupnya. Dia menjaga tanaman dari hama. Dia mencabut rumput yang mengganggu pertumbuhan. Dia berpanas, dia berkeringat, dia berjalan bolak-balik di ladang setiap hari.
Itulah ikhtiar — melakukan apa yang mampu kita lakukan, sebaik yang kita bisa, sesuai dengan cara yang benar.
Namun di samping semua itu, petani juga tahu satu hal lain: dia tidak bisa memaksa benih tumbuh lebih cepat. Dia tidak bisa memaksa matahari bersinar atau hujan turun pada jam yang dia tentukan. Kekuatan untuk menumbuhkan, untuk memberi kehidupan, untuk menjaga tanaman tetap hidup hingga berbuah — itu bukan di tangan petani. Itu di Tangan-Nya.
Itulah tawakkal — setelah melakukan yang terbaik, menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Mengatur.
Dulu mungkin kita salah paham. Kita pikir ikhtiar maksimal berarti memburu hasil dengan gelisah, memaksa hari ini harus ada, kalau belum ada berarti gagal. Kita lupa: petani yang baik menanam dengan tekun, lalu pulang dengan tenang. Dia tidak berdiri di ladang sambil berteriak minta benih tumbuh lebih cepat.
Dia tahu: tugasnya menanam dan merawat. Tugas Allah menumbuhkan dan mematangkan.
Sama halnya dengan rezeki yang kita cari. Setiap brosur yang kita bagikan, setiap tawaran yang kita sampaikan, setiap langkah yang kita ambil — itu adalah benih yang kita tanam. Mungkin hari ini belum terlihat hasilnya. Mungkin minggu ini belum ada tanda. Tapi benih itu tidak hilang. Dia sedang tumbuh — di waktu yang tepat, dengan cara yang Dia tentukan.
Bukan ikhtiar yang salah — yang salah adalah mengharapkan hasil hari ini. Bukan berdoa yang sia-sia — yang sia-sia adalah memaksa waktu panen sebelum waktunya.
Maka tanamlah dengan tekun. Rawatlah dengan sabar. Dan pulanglah dengan tenang. Karena Dia yang menciptakan musim tanam, Dia juga yang menjamin musim panen akan datang — tepat pada waktunya, tidak terlambat, tidak terlalu cepat.
"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
— QS. At-Talaq: 2-3
Menanam = ikhtiar. Menunggu dengan tenang = tawakkal. Berbuah = janji-Nya yang tidak pernah salah.
Semoga tulisan ini bermanfaat, akhi. Silakan jika ingin ada yang ditambah atau diubah.






Komentar
Posting Komentar