PERAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN TERNAK DALAM MENINGKATKAN NILAI TAMBAH MASYARAKAT

PERAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN TERNAK DALAM MENINGKATKAN NILAI TAMBAH MASYARAKAT

Amran. Teknologi pengolahan hasil ternak memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Pengolahan bukan sekadar mengubah bentuk fisik bahan pangan, tetapi merupakan proses peningkatan nilai tambah melalui pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran akan manfaat ekonomi, gizi, serta kesehatan. Nilai tambah hanya dapat tercapai apabila masyarakat tidak berhenti pada tahap produksi bahan mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk yang bernilai lebih tinggi.

1. Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Tujuan utama dari teknologi pengolahan hasil ternak adalah penciptaan nilai tambah (value added). Nilai tambah ini muncul ketika produk ternak tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk siap konsumsi atau produk olahan lanjutan.

Sebagai contoh, ayam potong hidup atau karkas di tingkat peternak atau pasar tradisional umumnya memiliki harga relatif rendah dan fluktuatif, misalnya sekitar Rp50.000 per ekor (harga dapat berubah tergantung wilayah dan waktu). Pada kondisi ini, keuntungan yang diperoleh peternak atau pedagang sangat terbatas dan rentan terhadap permainan harga pasar.

Namun, apabila ayam tersebut diolah lebih lanjut, maka nilai ekonominya dapat meningkat secara signifikan, antara lain melalui:

Pengolahan menjadi makanan siap saji:

  • Soto ayam
  • Sup ayam
  • Coto ayam
  • Bakso ayam
  • Nugget ayam
  • Abon ayam

Diversifikasi produk:

  • Daging bagian dada untuk nugget atau bakso
  • Tulang dan ceker untuk kaldu
  • Jeroan untuk coto atau soto

Setelah dilakukan pengolahan, nilai jual kotor dari satu ekor ayam dapat meningkat menjadi minimal dua kali lipat, bahkan bisa berkali-kali lipat tergantung:

  • Skala usaha
  • Kualitas produk
  • Pengemasan
  • Strategi pemasaran

Dengan demikian, teknologi pengolahan:

  • Membuka peluang usaha mikro dan UMKM
  • Menyerap tenaga kerja lokal
  • Mengurangi ketergantungan pada harga bahan mentah
  • Meningkatkan stabilitas ekonomi keluarga dan komunitas

2. Meningkatkan Nilai Gizi dan Kesadaran Kesehatan Masyarakat

Pengolahan hasil ternak yang baik tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat. Melalui pengolahan yang tepat, masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya gizi seimbang dan cara konsumsi yang sehat.

Beberapa manfaat pengolahan dari aspek gizi antara lain:

Mengurangi komponen yang kurang baik:

  • Lemak berlebih dapat dikurangi melalui perebusan atau pemisahan
  • Bagian tertentu dapat dibatasi konsumsinya untuk mencegah risiko kesehatan

Meningkatkan daya cerna dan keamanan pangan:

  • Proses pemasakan mematikan mikroorganisme patogen
  • Pengolahan membuat protein lebih mudah dicerna oleh tubuh

Menambah nilai gizi melalui bahan pendukung:

  • Rempah-rempah
  • Sayuran
  • Bumbu alami

Sebagai contoh, coto Makassar merupakan produk olahan berbasis daging yang kaya akan rempah-rempah seperti ketumbar, jintan, lengkuas, jahe, dan bawang. Kuah atau air coto:

  • Mengandung senyawa bioaktif dari rempah
  • Dapat memberikan efek positif bagi pencernaan
  • Bersifat menghangatkan dan meningkatkan nafsu makan

Dalam konteks ini, pengolahan mengajarkan pola konsumsi bijak, misalnya:

  • Konsumsi daging dalam jumlah cukup
  • Mengoptimalkan manfaat kuah dan rempah
  • Menjaga keseimbangan antara protein, lemak, dan unsur nabati

3. Meningkatkan Daya Simpan dan Mengurangi Pemborosan

Teknologi pengolahan hasil ternak juga berperan penting dalam memperpanjang masa simpan produk, sehingga mengurangi kerugian akibat pembusukan.

Beberapa contoh:

  • Pengolahan menjadi abon atau nugget memperpanjang daya simpan
  • Pendinginan dan pembekuan menghambat pertumbuhan mikroba
  • Pengolahan tradisional seperti pengeringan dan pengasapan masih relevan di pedesaan

Dengan meningkatnya daya simpan:

  • Kerugian pascapanen dapat ditekan
  • Produk dapat dipasarkan ke wilayah yang lebih luas
  • Masyarakat tidak terjebak pada penjualan terburu-buru dengan harga murah
4. Mendorong Inovasi dan Kemandirian Pangan

Teknologi pengolahan mendorong masyarakat untuk:

  • Berinovasi menciptakan produk khas daerah
  • Mengangkat kuliner lokal berbasis ternak
  • Mengurangi ketergantungan pada produk impor atau pabrikan besar

Kemandirian pangan akan terbentuk ketika masyarakat:

  • Mampu memproduksi
  • Mengolah
  • Mengonsumsi hasil ternaknya sendiri secara berkelanjutan

5. Dampak Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

Penerapan teknologi pengolahan hasil ternak:

  • Meningkatkan keterampilan masyarakat
  • Memperkuat peran perempuan dalam ekonomi keluarga
  • Menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya ilmu dan etika usaha

Nilai tambah sejati tidak hanya pada angka keuntungan, tetapi juga pada perubahan pola pikir dari menjual bahan mentah menuju pengelolaan sumber daya secara cerdas dan bertanggung jawab.

Penutup

Teknologi pengolahan ternak merupakan jembatan antara potensi alam dan kesejahteraan manusia. Ketika ilmu, kesadaran, dan etika bertemu, maka hasil ternak tidak hanya memberi keuntungan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi, kesehatan, dan keberkahan hidup masyarakat.

Wallahu a’lam bissabab.

Komentar

Postingan Populer